Sabtu, 31 Juli 2010 04:43
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
- Karya sastra diterima panitia paling lambat tgl 15 Agustus 2010 (Cap Pos)
- Penyelenggaraan babak final di Jakarta, tgl 26 Septemeber s/d 1 Oktober 2010
Untuk informasi selengkapnya dapat di unduh disini.
SEKOLAH Bertaraf Internasional (SBI) yang mengemban tugas mewujudkan manusia Indonesia cerdas dan kompetitif secara internasional, pada praktiknya sering disalah persepsikan di masyarakat. Misalnya, timbul kesan SBI merupakan kasta-nisasi pendidikan. Sebab hanya orang kaya yang bisa menyekolahkan anaknya di sekolah bertaraf internasional.
Padahal, menurut Dr. Mudjito AK, M.Si, Direktur Pembinaan TK dan SD Kementerian Pendidikan Nasional, kastanisasi itu sudah terjadi sejak dulu. Sebelum sekolah bertaraf internasional ada di Indonesia, orang-orang kaya menyekolahkan anaknya di negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura. Dan negara itulah yang mendapat untung.
Dengan adanya SBI yang terjamin secara kualitas, para orang kaya tidak perlu lagi repot mengirim anaknya ke luar negeri. Karena SBI memiliki kewajiban menyediakan kuota 10 hingga 20 persen bagi siswa miskin tapi berprestasi untuk mengenyam pendidikan di SBI. Dengan sistem subsidi silang, siswa miskin bisa menikmati pendidikan bertaraf internasioanal dengan bantuan orang kaya. Tapi memang perlu seleksi ketat agar siswa yang benar-benar pintar tapi tidak mampu yang bisa lolos.
Pemaparan itu disampaikan Mudjito dalam ujian terbuka promosi doktor di Aula Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Rawamangun, Jakarta. Direktur Program Pascasarjana UNJ, Prof. Dr. H. Djaali tampil memimpin sidang didampingi Prof. Dr. Muchlis R Luddin, MA dan Dr. Mujiono Said. Sedangkan Prof. Dr. I Made Putrawan sebagai promotor.
Disertasi yang dipertahankan Mudjito itu berjudul Evaluasi Kebijakan Pendidikan Nasional Tentang Penyelenggaraan Sekolah Bertaraf Internasional Untuk Pendidikan Dasar dan Menengah. Ayah lima anak ini mengambil Program Studi Manajemen Pendidikan pada Program Pascasarjana UNJ dengan gelar Doktor Pendidikan.
Di akhir sidang, Prof. Dr. H. Djaali menyatakan, Mudjito lulus ujian dengan nilai IPK 3,67, nilai ujian tertutup 3,68, nilai ujian terbuka 3,78 dan nilai akhir 3,74 dengan kategori sangat memuaskan. "Sebenarnya batas minimal Cum Laude itu nilai akhir 3,72. Saudara Mudjito melampaui batas itu. Hanya saja batas waktu studinya terlampaui sehingga tidak bisa mendapat Cum Laude", ujar Prof. Djaali.
Mudjito memang menempuh program S3 di tengah kesibukannya yang menumpuk sebagai Direktur Pembinaan TK dan SD Kementerian Pendidikan Nasional. Lelaki kelahiran Trenggalek, Jatim. 15 April 1956 ini harus pandai mengatur waktu yang sudah padat oleh tugas negara, dan memanfaatkan celah untuk mengurusi studinya.
"Sepulang kerja pukul empat sore, saya langsung ke kampus dan baru pulang pukul 11 malam. Itu dilakukan tiap hari kerja," tutur Mudjito. Karena itulah program doktoralnya baru selesai setelah 9 tahun (masuk tahun 2001 dan lulus 2010).
Dalam menimba ilmu, Mudjito memang ulet dan tidak pernah kenal lelah. Sifat itu terlihat sejak dia masih sebagai mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan IKIP Malang (sekarang Universitas Negeri Malang). Ketika itu hambatan yang dialaminya bukan kesibukan, tapi keterbatasan ekonomi keluarga. Orang tuanya yang petani tidak bisa memenuhi seluruh kebutuhan kuliahnya.
Tapi itu bukan halangan bagi Mudjito. Ia kemudian mencari tambahan uang dari menulis artikel di surat kabar, seperti Kompas, Surabaya Post. Suara Indonesia, Suara Karya, dan tabloid kampus IKIP Malang. Mudjito mendapat uang bekal dari rumah hanya Rp 10 ribu. Itu harus cukup untuk bayar kuliah, kos. dan makan. Nah. dengan menjadi kolumnis di koran, dia mendapat bayaran Rp 15 ribu per tulisan. "Bahkan di Kompas lebih besar lagi, yaitu Rp 100 ribu. Waktu itu. saya langsung bisa beli mesin ketik manual setelah mendapat honor hasil menulis di Kompas," kenang suami Sulastri ini.
Budaya menulis itu terus dia bawa setelah bekerja sebagai pegawai negeri sipil (PNS) di Kementerian Pendidikan Nasional (dulu Depdikbud). Setelah tidak lagi menulis kritis di surat kabar karena pernah ditegur atasannya, dia mulai menulis buku. Bahkan ia masih sempat menulis buku di tengah kesibukan menyusun disertasi.
Buku itulah yang diterbitkan berbarengan dengan ujian doktor yang dijalaninya kemarin di UNJ. Buku setebal 218 halaman tersebut berjudul Taman Kanak-Kanak, Rumah Idaman Bagi Pertumbuhan dan Perkembangan Anak. "Saya ingin memberi contoh kepada anak-anak saya dan staf di kantor bahwa proses berkarya dan belajar itu tidak pernah mengenal waktu dan usia," ujar Mudjito. (sumber: http://bataviase.co.id)
Berdasarkan hasil pembinaan pada tahap III maka mengikuti pembinaan tahap IV untuk mata pelajaran Matematika sebanyak 20 siswa dan untuk mata pelajaran IPA sebanyak 20 siswa terpilih untuk mengikuti pembinaan dan seleksi tahap IV. (lampiran unduh disini)
Pendidikan di bidang ilmu-ilmu dasar, seperti Matematika dan Sains/IPA sedang menjadi sorotan pada tahun-tahun terakhir ini. Hal tersebut disebabkan oleh keyakinan bahwa tingkat penguasaan ilmu-ilmu dasar suatu bangsa merupakan salah satu modal utama bagi bangsa tersebut, dan juga menjadi salah satu indikator seberapa jauh kiat suatu bangsa dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologinya.
Berkembangannya Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang pesat, berdampak pada globalisasi di berbagai bidang kehidupan. Terlebih dengan berkembangannya ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), khususnya teknologi informasi yang menyebabkan seolah-olah dunia menjadi tak berbatas (borderless world).